Perbedaan Pendekatan Salafi dan Nahdlatul Ulama (NU)

Perbedaan Pendekatan Salafi dan Nahdlatul Ulama (NU)

Sabtu, 19 September 2026, September 19, 2026

 


Perbedaan antara kalangan Salafi dan Nahdlatul Ulama (NU) terutama terlihat dalam pendekatan terhadap sumber hukum Islam, penggunaan mazhab, akidah, serta sejumlah tradisi dan praktik keagamaan.


Perlu dicatat bahwa istilah “Salafi” dan “Wahabi” tidak selalu digunakan dengan makna yang sama. Karena itu, pembahasan berikut menggambarkan kecenderungan pemikiran yang umum dibahas dalam literatur, bukan berarti setiap individu dalam kelompok tersebut memiliki pandangan yang identik.


1. Pendekatan terhadap Mazhab


Kalangan Salafi umumnya menekankan kembali kepada Al-Qur'an dan hadis serta melakukan penelaahan dalil secara langsung. Mereka tidak selalu mengikat diri secara taqlid kepada satu mazhab fikih tertentu, meskipun dalam banyak persoalan terdapat kesamaan pendapat dengan ulama dari mazhab Hanbali maupun pemikiran Ibnu Taimiyah dan ulama lainnya.


Nahdlatul Ulama (NU) dalam tradisi fikih mengikuti empat mazhab Sunni, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali, dengan praktik fikih di Indonesia yang banyak menggunakan mazhab Syafi'i.


2. Akidah dan Teologi


Kalangan Salafi menekankan konsep tauhid dan berusaha memahami sifat-sifat Allah berdasarkan Al-Qur'an dan hadis dengan pendekatan yang mereka anggap sesuai dengan pemahaman generasi salaf. Pembahasan tauhid sering dikelompokkan menjadi tauhid rububiyah, uluhiyah, serta asma wa sifat.


Nahdlatul Ulama (NU) secara umum mengikuti tradisi akidah Asy'ariyah dan Maturidiyah, yang menjadi bagian dari tradisi teologi Ahlussunnah wal Jamaah.


3. Tradisi dan Amalan Keagamaan


Salah satu perbedaan yang sering terlihat adalah dalam menyikapi sejumlah tradisi keagamaan.


Kalangan Salafi cenderung lebih ketat terhadap praktik yang dinilai tidak memiliki dasar atau contoh yang cukup kuat dari Nabi Muhammad ﷺ dan generasi salaf. Karena itu, sebagian praktik seperti tahlilan, maulid, tawassul, dan bentuk-bentuk ritual tertentu dalam ziarah kubur dapat dipandang sebagai bid'ah oleh sebagian ulama Salafi.


NU mempertahankan berbagai tradisi keagamaan seperti tahlilan, yasinan, maulid Nabi, ziarah kubur, dan tawassul. Dalam kerangka pemikiran NU, sebagian praktik tersebut dapat diterima selama memiliki dasar syariat, tujuan yang baik, dan tidak bertentangan dengan prinsip Islam. Sebagian ulama NU menggunakan konsep bid'ah hasanah untuk menjelaskan amalan baru yang dinilai memiliki maslahat dan tidak bertentangan dengan syariat.


4. Tasawuf dan Tarekat


Kalangan Salafi pada umumnya memberikan kritik terhadap sebagian praktik tasawuf dan tarekat yang mereka nilai tidak memiliki landasan syariat yang kuat. Namun, sikap terhadap istilah dan praktik tasawuf dapat berbeda antara satu tokoh dan kelompok dengan lainnya.


NU menerima tradisi tasawuf sebagai bagian dari pembinaan akhlak dan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). NU juga menaungi berbagai tarekat yang dianggap mu'tabarah, yaitu tarekat yang memiliki sanad dan memenuhi kriteria yang ditetapkan dalam tradisi keulamaan mereka.


Persamaan


Meskipun terdapat perbedaan dalam sejumlah persoalan, terdapat pula banyak persamaan. Keduanya sama-sama merujuk kepada Al-Qur'an dan Sunnah, mengakui pentingnya tauhid, menjalankan salat, puasa, zakat, dan ibadah-ibadah pokok lainnya, serta menjadikan Nabi Muhammad ﷺ sebagai teladan.


Kesimpulan


Perbedaan Salafi dan NU lebih tepat dipahami sebagai perbedaan metodologi, tradisi keilmuan, dan cara memahami sejumlah persoalan fikih, akidah, serta praktik keagamaan.


Perbedaan pendapat dalam masalah keagamaan sebaiknya dibahas dengan merujuk kepada dalil dan pendapat ulama secara proporsional, tanpa menggeneralisasi seluruh anggota suatu kelompok.

TerPopuler